Sabtu, 27 Oktober 2018

Petani Kopi Manggarai Menghadapi Free Trade

Senang dan bahagia rasanya membaca sebuah artikel di travelkompas.com yang diterbitkan pada tanggal 25 Oktober 2018. Di dalam artikel tersebut memberitakan mengenai kesuksesan yang diraih oleh  kopi Manggarai dalam  AVPA Grourment Product di Paris – Prancis pada tanggal 23 Oktober 2018 yang dibawa oleh “Kopiku Tanah Air Kita – Papaku Manggarai". Dalam arti bahwa kualitas kopi Manggarai semakin meningkat ke level Internasional dan semakin diakui dunia. Hal ini semakin memantapkan posisi “Kopi Manggarai” ke tengah pasar dunia. 



Petani Kopi Manggarai Menghadapi Free Trade
Kopi Manggarai
Credit Image @cerocoffee


Terpisah dari semuanya mari kita sedikit menilik mengenai “Kesejahteraan” dari para Petani penghasil Kopi Level Internasional. Sebebelumnya saya sendiri pernah menulis mengenai Kopi Colol yang disepelekan Perintah Local Namun Go Internasional. Untuk meningkatkan kesejahteraan petani “Fair Trade Coffee” merupakan salah satu pilihan yang terbaik yang dapat diambil untuk meningkatkan kesejahteraan para petani kopi. Namun Petani Kopi Manggarai sendiri tidak boleh menutup mata akan kenyataan pasar bebas (Free Trade).



Konsep Free Trade 


Free Trade atau lebih dikenal dengan akses perdagangan bebas dapat diterjemahkan dengan perjanjian bilateral (dua negara) atau Multilateral (beberapa negara) yang membuka kesempatan ekport dan import antar negara dengan persyaratan yang ringan.

Pemerintah tidak melakukan diskirminasi terhadap import maupun eksport. Menurut Kenichi Ohmae Free Trade (Pasar Bebas) dapat diartikan sebagai sebuah kebebasan yang terjadi dalam empat faktor utama: Kebebasan bergerak atau perpindahan modal, orang barang dan kemerdekaan dalam membuka usaha di negara lain tanpa adanya diskriminasi (Ohmae, 2005). Globalisasi merupakan salah satu hal yang mendorong terjadinya Free Trade (Pasar Bebas). Salah satu contoh Free Trade adalah MEA.

MEA atau dikenal dengan Masyarakat Ekonomi Asean atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk Free Trade antara Negara-negara di ASEAN. Salah satu tujuan utama MEA adalah mengurangi kesenjangan di antara negara-negara ASEAN. Kerjasama MEA ini telah didengungkan selama beberapa dekade terakhir dan menjadi salah satu hal yang cukup menakutkan bagi sebagian pelaku usaha. Bukan apa-apa ketakutan akan kalah bersaing benar-benar menghantui para pelaku usaha.


Ekport Kopi Indonesia


Kopi sendiri merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia dari sektor perkebunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2012), komoditi kopi merupakan komoditi hasil perkebunan yang memiliki nilai ekspor (FOB) kedua tertinggi setelah komoditi karet, dengan nilai ekspor sebesar 1.04 milyar US$ pada tahun 2011 dan 737 juta US$ pada tahun 2012. Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen terbesar kopi dunia. Berdasarkan data International Coffee Organization (ICO), Indonesia menempati urutan ketiga sebagai produsen kopi dunia setelah Brazil dan Vietnam dengan nilai total produksi tahun 2013 sebesar 700 020 ton, dengan komposisi produksi sekitar 80 persen jenis robusta dan 20 persen jenis arabika (ICO, 2014).

Dalam perdagangan kopi Indonesia, kebanyakan negara-negara ASEAN bukanlah negara tujuan ekspor utama kopi Indonesia. Pada tahun 2012, nilai ekspor kopi ke Amerika Serikat tercatat sebesar 331 juta US$, selanjutnya Jepang sebesar 145 juta US$ dan Jerman 117 juta US$, sedangkan di pasar ASEAN sendiri nilai ekspor terbesar hanya sebesar 70 juta US$ dan 32 juta US$, yaitu ekspor ke Malaysia dan Singapura (UNCOMTRADE, 2014). Namun, dengan jumlah penduduk yang besar dan tren konsumsi kopi yang terus meningkat, peluang pasar kopi di ASEAN adalah sesuatu yang potensial.


Kopi Manggarai


Bagaiman dengan para Petani kopi Manggarai? Apakah peluang dan juga hambatan yang dihadapi? Akan ada beberapa peluang yang sedapatnya diambil oleh para petani Manggarai. Dengan adanya Fair Trade khusunya MEA membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi para Petani kopi agar dapat membuka peluang pasar negara-negara ASEAN. Selain itu juga para pembeli dan distributor yang melirik bukan hanya dari dalam negeri melainkan dari negara-negara lain akan dengan lebih mudah mendapatkan akses ke para petani kopi.

Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Timur, luas lahan kebun kopi tahun 2010 tercatat 16.997 hektar dengan produksi 5.289 ton. Sedangkan untuk kabupaten Manggarai sendiri areal kopi arabika tahun 2010 seluas 2.767,63 hektar, dengan tingkat produktivitas 367,53 kilogram per hektar. Tanaman kopi robusta seluas 4.261,65 hektar dengan produktivitas 353,89 kilogram per hektar. Sementara di Ngada yang total luas areal kebun kopinya hanya sekitar 2.883 hektar dengan produksi 2.242 ton (2009) justru tingkat produktivitasnya lebih tinggi, yaitu 777,80 kilogram per hektar. Bahkan beberapa pengekpor kopi  mengakui bahwa komposisi kopi bajawa lebih besar daripada kopi bajawa untuk memenuhi permintaan ekport kopi yang besar (Kompas travel: dalam artikel berjudul "Kopi Manggarai yang Merana")

Namun bukannya tanpa hambatan, para petani kopi Manggarai dituntut agar meningkatkan kualitas produksi sesuai dengan standart pasar. Hal ini merupakan sesuatu yang lumrah dalam dunia perdagangan. Masih banyak “Pekerjaan Rumah” yang harus dibenahi semua pihak agar Kopi Manggarai sanggup bersaing dengan lebih “tajam”. Pemerintah daerah dituntut untuk menciptakan iklim produksi kopi yang sehat. Para petani sendiri dituntut untuk meningkatkan pengentahunannya di bidang Kopi serta pengetahuan dan pemahaman yang mumpuni mengenai pergerakan pasar kopi di kawasan ASEAN sendiri maupupun di dunia Internasional. 


Sumber Referensi:

https://travel.kompas.com/read/2011/04/21/05331345/kopi.manggarai.yang.merana

https://travel.kompas.com/read/2018/10/25/065000027/23-kopi-indonesia-menang-penghargaan-di-paris


EmoticonEmoticon