Jumat, 10 April 2020

Belajar Cara Bercocok Tanam Tanpa Tanah di Luar Negeri

Di tengah gang gelap di pusat kota Newark, New Jersey, tak disangka Anda bisa menemukan sebuah peranian di dalam bekas klub malam dan lounge Distinct 89 yang tahun lalu ditutup. Melewati meja-meja dan gulungan kain industrial yang berserakan, lantai dansa telah diubah menjadi ruangan bercocok tanam.



Bercocok tanam tanpa Tanah Aeorponik
Bercocok tanam tanpa Tanah Aeorponik



Usaha Aerofarms, Perusahaan Aeroponik 


Terdapat tumpukan media tanam setinggi 4,5 meter-dengan panjang masing-masing 3 meter, lebar 90 sentimeter, dan teba1 30 atau 60 sentimeter. Di bawah tumbuh-tumbuhan berdaun hijau yang menyembul dari kotak-kotak tanaman tidak ada tanah sama sekali-yang ada hanya udara.

Tempat ini merupakan pusat uji coba Aero Farms, perusahaan rintisan berlisensi di Delaware yang fokus pada aeroponik-sejenis metode pertanian vertikal tanpa tanah. Pada dasarnya, petani aeroponik menyemprotkan larutan bernutrisi tinggi ke tanaman supaya tumbuh dengan subur.

Proses penanaman melibatkan konsumsi air dan lahan lebih sedikit ketimbang metode konvensional. Pestisida juga sama sekali tidak digunakan. Ide ini sudah ada selama berpuluh-puluh tahun,kebanyakan beredar di kalangan ilmuwan yang mempelajari cara sistem akar beroperasi di luar tanah.

Keterbatasan teknologi membuat metode aeroponik belum terjangkau untuk sebagian besar petani komersial.

Pendiri AeroFarms Ed Harwood mengatakan perlengkapan berteknologi lebih canggih dan murah-mulai perangkat lunak, lampu, hingga bahan-telah membuat metode aeroponik layak diimplementasikan. AeroFarms, yang telah mengumpulkan modal ventura sebesar lebih dari US$36 juta, yakin membuka bisnis pertanian di pusat kota Newark akan menguntungkan perusahaannya. (AeroFarms berencana memindahkan kantor pusatnya ke Newark.)


Belajar Cara Bercocok Tanam Tanpa Tanah di Luar Negeri
Pertanian Aeroponik


Perkembangan Usaha Teknologi Aeroponik


Awal tahun ini, AeroFarms menandatangani kontrak untuk menyewa bekas pabrik baja seluas 6.410 meter persegi selama 20 tahun. Lokasinya berjarak 3,2 kilometer dari bekas klub malam Distinct 89 di distrik Ironbound, Newark.

Di sana, AeroFarms berencana menambah jumlah pegawai dari 15 menjadi 70 orang. Selain itu, AeroFarms akan membangun pertanian urban yang mampu menghasilkan produk sebanyak 750 ton per tahun, cukup untuk menyuplai sekitar 60.000 orang tanpa menggali tanah atau mencendok pupuk.

“Saya tidak merindukan metode [pertanian] zaman dulu,” ujar Harwood. “Kami terjun ke bisnis ini karena kami tidak ingin bekerja sekeras petani biasa.”


Teknologi dan Metode Cocok Tanam Tanpa Tanah (Aeroponik)


Industri pertanian menghabiskan 70% suplai air bersih manusia, yang kini semakin langka di era perubahan iklim. Untuk sayuran seperti kale atau arugula, Harwood mengatakan sistem pertaniannya dapat menumbuhkan tanaman lebih cepat dengan konsumsi air hanya 10%.

AeroFarms mengawali bisnisnya dengan menebar bibit di kain microflecce tembus air yang dibentangkan di atas media tanam.

Di dalam wadah berukuran yang bisa ditumpuk, selang dengan kepala semprotan memompa oksigen dan partikel air bemutrisi ke kain, membentuk membran di tempat bibit berkecambah. Lama-kelamaan bibit menumbuhkan akar halus yang menembus ke bawah kain microflee untuk menyerap lebih banyak panikel air bernutrisi.

Seiring pertumbuhan tanaman, selang-selang tambahan menyemprotkan gas karbon dioksida. Sejumlah sensor memonitor kelembapan dan suhu mangan. Hasil panen dibawa ke alat pemangkasan menggunakan ban berjalan.

Akar tanaman dipotong dari kain microfleece supaya kain bisa dicuci dan digunakan kembali. Lampu light emitting diode (LED) elemen paling penting [dari pertanian aeroponik]. Dengan panel kendali buatan Lighting Research Center di Researh Polytechnic Institute, Harwood dapat menyesuaikan intensitas cahaya dan jarak standar gelombang warna, yang memengaruhi kuantitas, rasa, tampilan, dan tingkat nutrisi hasil panen.

Perubahan kecil dapat membuat kale terasa leblh manis atau arugula lebih pedas. Bagi petani aeroponik, sistem pencahayaan termasuk salah satu komponen yang paling menelan biaya besar.

Neil Mattson, dosen Cornell’s School of Integrative Plant Science yang bekerja sama dengan Harwood Untuk mengembangkan ‘formula cahayanya”, mengungkapkan bahwa menggunakan hanya lampu LED Warna merah dan biru dapat menekan biaya energi hingga 1500.


Contoh Keuntungan Pertanian Tanpa Tanah (Aeroponik)


AeroFarms telah meraup keuntungan dari Penurunan harga lampu LED sebesar 85% dalam enam tahun terakhir, Bahkan saat output listrik per watt Meningkat dua kali lipat. Hal itu menjadi keuntungan besar sepanjany periode awal untuk mengomersialkan pertanian aeroponik, ujar Richard Stoner, yang menerima pendanaan riset dari NASA setelah melakukan usaha serupa pada 1980-an.

Stoner menggunakan bohlam berisi uap merkuri, yang-berbeda dengan lampu LED bersuhu rendah-harus dipasang sangat jauh agar tidak membakar tanaman. Harwood, yang memperoleh gelar doktor bidang ilmu ternak perah dari University of Wisconsin di Madison, merupakan Associate Director Cooperative Extension di Cornell, yang bekerjasama dengan petani lokal untuk meneliti sistem pangan dan pertanian.

Pada 2002, Harwood membangun prototipe sistem aeroponik dengan kain microfleece setelah menguji beberapa bahan tekstil lain. “Saya berteman dengan semua pramuniaga wanita diJoAnn Fabrics,” ujamya.

Setahun kemudian, dia meluncurkan bisnis pertanian GreatVeggies, tapi tidak bisa mengembangkannya. Pada 2009, Harwood menerima pendanaan sebesar US$500.000 dari 21Ventures dan Quercus Trust untuk mendirikan AeroFanns.

Rencana awal AeroFarms menjual perlengkapan aeroponik. Namun, setelah melakukan banyak uji coba dan lampu serta perlengkapan lain menjadi semakin murah bercocok tanam mulai tampak semakin menguntungkan, ujar Chief Executive Officer (CEO) David Rosenberg, yang menambahkan bahwa harga produk aeroponik nantinya tidak jauh berbeda dengan produk yang dihasilkan pertanian konvensional besar.

AeroFarms telah fokus pada pasar sayuran senilai puluhan miliar dolar, termasuk bumbu dapur segar dan sayuran mikro khusus. Sebagian besar perusahaan rintisan aeroponik lain menerapkan hal serupa, termasuk Living Greens Farm di Minnesota dan FarmedI-Iere di Illinois.


Belajar Cara Bercocok Tanam Tanpa Tanah di Luar Negeri
Petanian Tanpa Tanah


Farmed Here sudah menjual sayuran hijau ke 75 toko di area Chicago, termasuk gerai Whole Foods lokal. Tahun lalu, AeroFarms menggugat FarmedHere, menuding perusahaan Midwestern tersebut mencuri rahasia dagang dan melanggar hak paten dengan menolak membayar biaya lisensi setelah menyewa perlengkapan milik Harwood.

Gugatan tersebut sedang menunggu proses mediasi; FarmedHere membantah tudingan tersebut, tapi menolak berkomentar perihal gugatan ini. “Salah satu masalah paten adalah butuh dana sangat besar untuk mempertahankannya, dan Anda dapat menghabiskan uang itu untuk penelitian dan pengembangan,” ujar Robert Colangelo, CEO Green Sense Farms yang berbasis di Indiana dan menjual sayuran hijau hidroponik (ditanam di air, bukan di udara) ke sekitar 80 toko.


Tantangan dan Kekurangan Pertanian Aeroponik 


Tantangan yang lebih berat bagi pertanian aeroponik di antaranya polusi dari penggunaan listrik yang terlalu besar. Walau teknologi LED semakin berkembang, Louis Albright, dosen bidang pertanian di Cornell, mengungkapkan selada yang tumbuh di bawah paparan cahaya artifisial menghasilkan gas karbon dioksida setara dengan [yang diproduksi] pembangkit listrik untuk mengisi tiga drum bervolume 208,2 liter.

Harwood membantah angka tersebut, tapi enggan menyediakan data spesifik. “Saya menghabiskan 10 tahun mengerjakan ini, dan rasanya sangat menyenangkan bisa melangkah maju. Saat ini, perhitungan bisnisnya masuk akal,” ujarnya. Rosenberg bersikap lebih terus terang: “Saya khawatir dengan lingkungan,” ujarnya. “Tapi, saya ingin menghasilkan uang juga.“



Bloombergbusinessweek
No.43 Nov 2014

Go Green


EmoticonEmoticon