Selasa, 21 April 2020

Budaya Unik Pulau Sabu; Cium Hidung, Tenun Ikat dan Gula Sabu

Selain terkenal dengan keindahan alamnya yang eksotis, Pulau Sabu juga memiliki ragam budaya yang unik dan khas yang menjadi warisan budaya masyarakat Pulau Sabu. Hasil warisan budaya tersebut semisal Gula Sabu dan juga Tenun Ikat khas sabu yang sering dijadikan oleh-oleh atau souvenir khas Pulau ini. 


Dua orang wanita yang mengenakan tenun khas Pulau Sabu
Dua orang wanita yang mengenakan tenun khas Pulau Sabu


Warisan tradisi Cium Hidung yang menjadi ciri khas Masyarakat Sabu sebagai tanda perdamaian dan persaudaraan memberikan kesan damai dan tenang pada Pulau Sabu dan Masyarakatnya.


Cium Hidung ala Sabu (Hengedo)


Ada satu budaya/tradisi unik di Pulau Sabu dan Pulau Raijua, gaitu budaga cium hidung yang dalam Bahasa Sabu disebut "Hengedo." Cium hidung ini dilakukan oleh dua orang Suku Sabu, baik laki-laki maupun perempuan, dengan cara saling menggesekkan ujung hidung selama kurang lebih tiga detik.


Dua orang Gadis Sabu
Dua orang Gadis Sabu


Cium hidung ini akan dilakulkan oleh dua Orang Sabu yang bertemu di mana pun, untuk menunjukkan rasa persaudaraan. Selain itu. cium hidung juga bermakna sebagai tanda perdamaian.

Baca Juga:


Bila ada dua orang berselisih, dan kemudian berciuman hidung maka masalahnya dianggap selesai. Budaya yang unik memang.  Saat di mall, bank, toko buku, dan tempat-tempat umum lainnya, secara tak sengaja jika melihat dua orang saling menggesekkan ujung hidungnya. Kita jadi tidak heran lagi melihatnya dan jadi bisa menebak bahwa dua orang tersebut berasal dari Sabu.


Tenun Ikat Sabu


Seperti pulau-pulau lainnga di NTT, Sabu juga memiliki tenun ikat yang khas dengan motif-motif yang menarik. Bagi masyarakat Sabu, kain tenun adalah identitas diri/keluarga dan menjadi jejak rekam di mana mereka dapat menelusuri garis keturunan nenek moyang melalui motif-motif berbeda gang dimiliki oleh setiap keluarga.

Asal mula tradisi menenun di Sabu diyakini berasal dari dua perempuan kakak-beradik gang dianggap sebagai leluhur/ penenun pertama di Sabu. mereka menghasilkan corak tenun dalam dua kelompok yang dikenal dengan nama Bunga Palem Besar (Hubi Ae) dan Bunga Palem Kecil (Hubi Iki).

Dari dua kelompok itulah corak tenun Sabu berkembang. Setiap kelompok dan sub-kelompok (keluarga) kemudian memiliki motifnya sendiri yang tidak mungkin ditiru/dipakai oleh anggota keluarga lain.


Seorang Wania sedang menenun tenun Khas Sabu
Seorang Wania sedang menenun tenun Khas Sabu


Ciri khas tenun ikat Sabua dalah kombinasi hiasan berderet dalam jalur yang lebar dan teratur tapi tidak simetris. Keistimewaan tenun ikat Sabu selain motifnya yang cantik adalah penggunaan bahan pewarna alami untuk mewarnai benangnga sehingga mendapatkan warna-warni yang cerah dan indah. Warna dominan pada tenun ikat Sabu adalah merah, biru tua (nila/indigo), dan putih. Belakangan mulai ditambahkan warna kuning untuk aksen.

Warna merah didapatkan dari akar mengkudu, biru dari daun nila, putih dari warna alami benang kapas, dan kuning dari umbi kunyit. Kain hasil tenun ikat tradisional Pulau Sabu yang paling terkenal adalah "Si Hawu" (sarung) dan ”Higi Huri" (selimut).



Gula Sabu


Selain tenun ikat, oleh-oleh khas Sabu yang layak untuk dibawa pulang adalah Gula Sabu. Bicara tentang Gula Sabu, mungkin belum banyak yang tahu selain Warga NTT. Maklum, gula ini tidak dapat dijumpai di tempat lain di Indonesia (bahkan di dunia) selain di Pulau Sabu dan Pulau Raijua.

Tak heran kalau dinamakan Gula Sabu atau "Donahu Hawu" dalam Bahasa Sabu. Gula ini cukup unik, berbentuk cairan yang sangat kental dan lengket serta berwarna coklat kehitaman. Kalau dilihat sepintas mirip madu tapi cairannya lebih kental.

Baca Juga:


Gula Sabu merupakan makanan alternatif warga Sabu selain beras dan jagung di tengah kondisi geografis Pulau Sabu yang kering dan tandus. Jika terjadi gagal panen tanaman palawija dan persediaan bahan makanan menipis, maka Gula Sabu dimanfaatkan sebagai makanan pengganti beras dan jagung untuk bertahan hidup.


gula sabu
Gula Sabu


Gula Sabu terbuat dari nira buah lontar/Siwalan (Borassus Flabellifer) yang direbus selama beberapa jam hingga mengental. Cara menikmati Gula Sabu adalah dengan meminumnya langsung atau mengeduhnga dengan air, lalu meminumnya seperti minum teh atau kopi.

Di pasaran, Gula Sabu biasanya dijual dalam botol-botol air mineral atau dalam jerigen. Gula Sabu diyakini mempunyai bangak manfaat untuk kesehatan, antara lain adalah sebagai obat penghilang panas dalam dan pereda sakit maag.



Travelexposed

Travel, Books and Music,,


EmoticonEmoticon