Minggu, 05 April 2020

Food Truck; Bisnis yang Fleksibel dan Menjanjikan

Tingginya minat pengunjung di festival-festival food truck membuat para wirausahawan ikutan mencoba terjun di dunia restoran berjalan ini. Ini bisa dimaklumi karena bisnis restoran memang punya peluang besar untuk meraih kesuksesan sejalan dengan makin bertambahnya kelas menengah dan naiknya daya beli masyarakat.


Contoh Food Truck yang unik



Truk-truk makanan ini menjadi alternatif buat mereka yang baru mulai terjun di dunia usaha atau mulai menjajaki penjualan makanan lewat restoran berjalan. Ketimbang sewa tempat di mal atau ruko untuk mendirikan restoran yang sangat mahal, sehingga perlu merogoh investasi awal sedikitnya Rp 2 miliar.

Dengan food truck, ada alternatif bisnis restoran yang menggiurkan tetapi dengan lebih sedikit modal ketimbang membuka usaha secara konvensional. Demam food truck juga menjalar ke restoran-restoran, kafe-kafe atau perusahaan di bidang makanan dan minuman yang sudah mapan. Dan sebetulnya mereka inilah yang paling relevan membangun food truck jika mereka ingin memperluas pasar atau sekadar alat promosi (branding).

Produsen kopi JJ Royal adalah salah satu pemain mapan yang sudah memiliki food truck. Ada juga restoran Hollycow, menyusul kemudian Bakmi GM. Beberapa restoran, seperti Yoshinoya, dan minuman Chatime, menurut kabar juga sedang merancang hal yang sama.

Belum ada data resmi tentang jumlah food truck di Jakarta, tetapi setiap bulan terus bertambah. Ditambah lagi kendaraan makanan jenis multiguna (MPV), sekelas Granmax atau VW Combi, yang juga semakin banyak populasinya. Perusahaan karoseri Delima Jaya, yang punya pengalaman panjang membangun karoseri mobil khusus, mengakui setiap harinya ada saja perusahaan yang berminat membangun food truck.


Regulasi Food Truck yang Masih Belum Pasti 


Tentu saja, euforia membangun food truck harus dicermati dan dikalkulasi secara bisnis maupun sosial. Seperti pernah disajikan dalam , perlu beberapa persiapan untuk membangun food truck, serta kemungkinan regulasi dan perizinan yang harusnya ditempuh. Memang selama ini, soal perizinan food truck masih belum diatur secara khusus.

Faktanya food truck masih disamakan dengan pedagang kaki lima (PKL). Ini bisa menguntungkan tetapi juga bisa merugikan. Sehingga perlu banyak “kreativitas” dan informasi tentang bagaimana menjalankan usaha layaknya PKL. Kita tahu sendiri betapa pungutan liar kerap merongrong PKL.

“Kalau ingin berjualan mobile, kita perlu negosiasi dengan pihak yang punya lahan, serta survei lokasi. Karena hambatan-hambatan itu kita lebih sering mengikuti event saja," kata ]auw Ferdy, co-owner Tjap Doea Rawit. Food truck Doea Rawit didirikan enam bulan lalu. Pada setiap pekan ada saja kegiatan festival yang mereka ikuti. Selama mengikuti event, Doea Rawit yang menjual makanan serba mi itu sanggup menutup ongkos kerja. “Setidaknya kami masih bisa bayar pegawai,” papar Ferdy lagi.


Food Truck harus didesain semenarik mungkin


Setelah soal tempat, pemilik food truck sebisa mungkin menyajikan makanan yang unik. Terlepas dari soal rasa, penampilan juga ikut mempengaruhi pilihan konsumen. Roti dengan warna hitam, ditunjang dengan garnish yang menggugah selera telah menarik banyak pengunjung membeli Fatty Burger di Fat Belly. Tetapi soal rasa memang harus jadi nomor satu.

“Kami buat sendiri semuanya, buns, beef patty, saus, mustard sauce, gelato. Ini yang membuat berbeda,” kata Evan Satria, pemilik Fat Belly yang pernah menjual 500 porsi per hari saat festival di Serpong.

Yang tak kalah penting juga adalah kegiatan marketing dan social media. Strategi ini banyak mengambil contoh dari film “Chef" yang dibintangi ]on Favreau, yang ternyata memang terbukti efektif. Mereka yang mengantri panjang di Fat Belly tahu persis jadwal truk ini berkeliling berkat informasi dari social media.


Selain harus paham soal hitungan bisnis, mengelola food truck juga perlu memahami karakter dan kebutuhan kelas menengah Jakarta. Karena merekalah trend setter sebenarnya.

Foodservicetoday

High Way To Hell


EmoticonEmoticon