Rabu, 08 April 2020

Kisah Awal Mula Berdirinya E-Commerce Sukses Tokopedia

Di berbagai kesempatan, baik di meja kerja, Saat ja makan siang, maupun dalam perjalanan menuju  ke kantor klien, William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison tak henti-hentinya berdiskusi tentang cara membuat marketplace.  Pada 2007, beberapa ritel online di Indonesia lahir, tapi banyak orang belum memahaminya.

Jangankan ikut membuat, menjadi konsumennya saja masih takut. Walau tidak sedikit pemilik toko offline menyadari bahwa e-commerce merupakan kanal baru dalam mendistribusikan produknya.


Tokopedia


Membaca Peluang Pasar Indonesia

Dengan demikian, ada dua potensi yang akan berkembang terkait e-commerce: pasar besar dan jumlah pedagang yang banyak. Pasar e-commerce akan bertumbuh seiring berjalannya waktu sementara para pedagang bertanya-tanya bagaimana cara membuatnya.

“Kala itu banyak om dan tante ingin memiliki ritel online sehingga kami berpikir untuk membuat marketplace,” kata William. Sebab, dengan marketplace, siapa pun bisa membuka toko secara online selayaknya menyewa tempat untuk berjualan di pasar atau pusat perbelanjaan. “Jadi, mereka tak perlu membuatnya sendiri.”

Di sisi lain, kedua karyawan PT Indonusa Dwitama-perusahaan yang memiliki portofolio investasi di berbagai bidang antara lain eksplorasi dan eksploitasi pertambangan, jasa keuangan, perdagangan, multimedia interaktif, dan teknologi informasi itu sudah merasakan gelagat bahwa kejayaan bisnis layanan pesan singkat premium yang mereka jalankan akan segera berakhir.

Internet mengubah banyak hal, termasuk mematikan bisnis layanan pesan singkat premium yang sebelumnya cukup menguntungkan penyedia dan operator telekomunikasi seluler.


Tantangan Awal Berdirinya Tokopedia

Untuk mewujudkan obsesi tersebut, William dan Leontinus pun membuat konsepnya. Tapi, setelah konsep itu diajukan ke banyak pemilik uang, tak satu pun yang bersedia mendanai. Rata-rata mereka meragukan kelangsungan bisnis e-commerce karena saat itu memang masih baru.

Sebagian di antaranya menganggap mengembangkan bisnis di ranah internet seperti ‘jual kacang”, maunya begitu masuk langsung untung. Ada pula yang mempertanyakan, buat apa mengembangkan Website yang sudah pernah dibuat orang lain. Meski sudah mengajukan konsep ke mana-mana, usaha mereka tak membuahkan hasil.

Sampai pada satu titik William dan Leontinus mengajukan idenya ke Victor Fungkong, pemilik Indonusa yang notabene bosnya sendiri. “Saat itu kami yakinkan beliau bahwa bisnis layanan pesan singkat premium akan segera berakhir karena tergerus kehadiran internet,” ungkap William.

Alih-alih membiayai ide karyawannya, Victor mencoba membantu memperkenalkan mereka ke teman-temannya. Sepanjang 2008 Victor melakukannya, tapi hasilnya tetap nihil.

Hingga akhirnya Victor sendiri yang menyatakan berkomitmen membiayai proyek (seed funding) tersebut maksimal Rp2,5 miliar melalui Indonusa. “Kalau berhasil silakan diteruskan, kalau gagal ya berarti hilang dana segitu,” kata William menirukan pernyataan bosnya waktu itu.

“Apakah mau dijalankan sebagai anak usaha Indonusa atau mereka hanya bertindak sebagai investor, bagi saya : tak peduli, yang penting ide saya jalan dulu.”


Tokopedia menjadi salahsatu online shop terbesar di Indonesia


Dan Akhirnya Tokopedia Berdiri

Pada 6 Februari 2009, PT Tokopedia pun resmi berdiri dengan menempati kantor pertamanya di Rumah Kantor Pertama Senayan E7 Lantai 3, Senayan, Jakarta Pusat; tak terlalu jauh dari kantor Indonusa.

Nama Tokopedia dipilih karena lebih bersifat general seperti Google dan Yahoo sehingga bisa dikembangkan untuk bisnis apa saja. Menurut Leontinus, Co-founder yang bertindak sebagai Chief Operating officer Tokopedia, semula salah satu nama yang terlintas adalah Indowebstore, tapi sudah dimiliki orang lain.

Kisah gerilya pencarian dana oleh William, Co-founder yang kini menjabat Chief Executive Officer (CEO) Tokopedia, dan Leontinus ini mirip yang dilakukan dua co-founder Google, Sergey Brin dan Larry Page pada 1998.

Seperti banyak yang diceritakan dalam berbagai kisah sukses, Google, situs pencarian yang saat ini menjadi perusahaan internet terbesar di dunia, juga lahir dari sebuah ide para pendirinya. Setelah pada Agustus 1998 memperoleh pendanaan pertama kali sebesar US$100.000 dari Andy Bechtolsheim, salah satu pendiri Sun Microsystems, Google pun berdiri. Tak perlu waktu lama, Google sanggup meraup pendanaan jutaan dolar dan terus  berkembang sampai sekarang.

Facebook, jejaring sosial terbesar sejagat, juga berangkat dari ide pendirinya, Mark Zuckerberg. Setelah disuntik dana sebesar US$500.000 oleh Peter Thiel, salah satu co-founder PayPal, pada 2004 situs tersebut lantas berhasil mengeruk investasi dari berbagai pemodal ventura hingga puluhan juta dolar Amerika.


Dari Accel Partners, misalnya, Facebook memperoleh US$ 12,7 juta, kemudian dari Greylock Partners sebesar US$215 juta. Bahkan, sekarang Facebook-dan Google juga berkembang menjadi pemodal ventura.

bloombergbusinessweek

High Way To Hell


EmoticonEmoticon