Kamis, 09 April 2020

Kumpulan Doa Bahasa Manggarai Pada Masa Katekismus Awal Di Tanah Manggarai

Gereja Katolik sejak awal kehadirannya di tanah Manggarai melalui para Missionaris awal telah berupaya melaksanakan proses pengakuan, penghargaan, penghormatan dan keberpihakan kepada umat di tanah Manggarai. Karena Gereja juga menyadari bahwa sebelum Gereja Katolik, umat (masyarakat) Manggarai sudah lama ada dan berevolusi.


Doa bahasa Manggarai
Katedral Rueng
@v_johni


Misionaris Manggarai dan Etno Pastoral


Para Misionaris awal tanah Manggarai telah menerapkan istilah “etno pastoral”. Etno pastoral adalah lukisan (gambaran) atau deskripsi komunitas adat yang mau dilayani misi Kristus kepada umat setempat. Komunitas umat setempat ini juga dapat diistilahkan dengan komunitas pastoral, karena komunitas pastoral merupakan komunitas umat yang dibentuk untuk mewartakan misi Kristus sesuai dengan konteks umat di Tanah Manggarai.

Gereja Katolik sadar bahwa Allah hadir dalam setiap kebudayaannya masing-masing dengan gaya yang khas. Dokumen Konsili Vatikan II, hal 585, menyebutkan “sabda Allah mewahyukan diri kepada umat-Nya hingga menampakan diri sepenuh-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman."


Doa Bahasa Manggarai

Salah satu bentuk Inkulturasi yang diterapkan yaitu dalam doa yang disesuaikan dengan kebudayaan Manggarai. Semuanya itu disesuaikan dengan "Cara Masyarakat Manggarai" mengekspresikan hal-hal yang dihadapi didalam kehidupannya.

Para Misionaris awal sangat menghargai cara orang Manggarai berdoa Kepada "Mori Jari Dedek", Sang Pencipta dan Yang Mahakuasa


Yo Yésus di’a


Yo Yésus di’a agu lembak kéta,
léloga aku ata tikul oné ranga Dité.
Aku tegi sawal agu Ité,
landing léng kéta tu’ung
lélakn wakar daku
na’a oné nai daku te imbi,
te bengkes agu te momang di’a-di’a
te teser tu’u-tu’ung ndékok daku,
agu temerkoé ngoéng daku
boto pandé ndékok kolé.
Aku tegi nenggitu
rémé tenang agu nuk laku
susa Dité agu wéong naig
landing lima réu Dité,
agu nuk laku taé de Nabi David,
yo Yésus ata cembes,
 lété hia ba mu’u Dité curupn:
“ ,,Isé poli pépék burnt muing
 limé agu wa’i daku,
agu poli taungs lisé bilangd toko daku.“
Amin



O Yésus Kristus


O Yésus Kristus,
aku imbi te lté kanang kali Raja sanggéd.
Sanggéd taung ca’oca ata poli mangad,
dédék latang te Weki rud Ité.
Aku ngoéng te weru kolé '
reké du cebong daku.
Ogok te lut jing da’at,
agu sanggéd tatong agu gorin.
Aku reké mosé
ného ata serani di’a.
Céwén kolé aku paka cau kuasa de Mori Keraéng,
agu kuasa de Geréja dite'
dengkir agu reba di’an.
Pucu Nggeluk ke’ta de Mori Yésus,
aku condo sanggéd gori koég ho’ o,
 kudut sanggéd ata lut perénta nggeluk Dité,
 agu ali hitu
perénta hambor Dité
caing taung oné temu tana lino ho’.o Amen.



 
Kota Ruteng
@wongflores

Legalitas Inkulturasi Manggarai


Dokumen Konsili Vatikan II tentang tema-tema yang amat mendesak, salah satunya artikel dua, tentang berbagai kaidah mengembangkan kebudayaan, pada nomor 53-62 dan halaman 579-593. Selain itu, dalam Dokumen De Liturgia Romana Et Inkulturatione- DLREI, (Liturgi Romawi dan Inkulturasi) menjelaskan mengenai inkulturasi, bahwa Gereja menyesuaikan pewartaan injil dengan kebudayaan setempat.

Magisterium Gereja telah memakai istilah “inkulturasi” untuk merumuskan dengan lebih tepat, “inkarnasi Injil dalam pelbagai kebudayaan yang otonom dan sekaligus memasukan kebudayaan-kebudayaan tersebut ke dalam kehidupan Gereja”.

Inkulturasi berarti transformasi mendalam dari nilai-nilai kebudayaan yang asli diintegrasikan ke dalam kristianitas dan penanaman kristianitas ke dalam aneka budaya manusia yang berbeda-beda dalam hal ini Kebudayaan Manggarai yang kaya.

Istilah inkulturasi adalah ungkapan yang lebih baik untuk melukiskan gerak ganda yaitu “lewat proses inkulturasi, Gereja membuat Injil menjelma dalam aneka kebudayaan, sekaligus memasukan para bangsa, bersama dengan kebudayaan mereka ke dalam persekutuan Gereja sendiri”, (DLREI, no.4).

Sumber Doa: Teks Stensilan Katekismus Bahasa Manggarai


High Way To Hell


EmoticonEmoticon