Jumat, 10 April 2020

Prediksi Masa Depan Perekonomian Negeri Tiongkok

Saat dua organisasi riset bisnis terkemukadan seorang ekonom Harvard ternama merespons pertanyaan mengenai pertumbuhan China, jawaban yang mereka lontarkan sangat beragam. 



dua prediksi masa depan ekonomi cina
Forbidden City

Pendapat Para Pengamat Mengenai Perkembangan Ekonomi Tiongkok


Dalam laporan The Long Sofi Fall in Chinese Growth yang dirilis The Conference Board Inc. pada 20 Oktober 2014, Direktur Pelaksana Conference Board di China David Hoffman dan ekonom Andrew Polk menulis bahwa perekonomian China akan stagnan bila para pengambil kebijakan menunda langkah perubahan yang diperlukan.

Grup riset bisnis tersebut memprediksi rtumbuhan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) China turun 4% pada 2020. Sebaliknya organisasi riset lain, Asia Society Policy Institute asal New York memprediksi China tumbuh 6% tahun itu-tidak sepesat sebelumnya, tapi lumayan. 

Dalam studi bertajuk Avoiding the Blind Alley pada 22 Oktober, Society menyinggung perkembangan reformasi China. Kedua laporan tersebut dirilis pada pekan yang sama saat China mengumumkan PDB kuartal ketiga tumbuh 7,3%, kenaikan paling lambat dalam lima tahun terakhir.

Awal Oktober, mantan menteri keuangan Amerika Larry Summers dan ekonom Harvard Lant Pritchett merilis kajian berjudul Asiaphoria Meets Regression to the Mean. “Pengalaman China dari 1977 hingga 2010 sudah tidak ada duanya, mungkin menjadi satu-satunya contoh dalam sejarah manusia,” tulis mereka ketika membahas pertumbuhan pesat yang berkelanjutan. 


dua prediksi masa depan ekonomi cina
The Great Wall



“Mengapa pertumbuhan kemudian akan melambat? Pada dasarnya, karena itulah yang terjadi pada [negara dengan] pertumbuhan yang pesat.” Mereka juga mengatakan, dalam kasus China, “melambatnya laju pertumbuhan juga dipicu rezim otoriter dan sikap tertutup pemerintah terhadap berbagai perusahaan.” 


Dua Prediksi yang Berbeda Tentang Ekonomi Tiongkok


Para pengamat, baik yang memprediksi pasar akan lesu (bear market) maupun pasar bakal bergairah (bull market), sepakat model perekonomian China harus diubah. Restrukturisasi besar-besaran di sektor publik pada akhir 1990-an perlu diikuti dengan pertumbuhan produktivitas yang pesat.

Sejak 2001, produktivitas memang meningkat berkat teknologi baru dan proses produksi yang diperkenalkan oleh investor asing. Setelah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), China diserbu investor asing. 

Namun, sejak krisis finansial global pada akhir 2008, Steven Barnett, Kepala Dana Moneter Internasional (IMF) wilayah China, mengungkapkan fakta: pertumbuhan China selama ini didorong investasi yang dikendalikan pemerintah, sedangkan laju peningkatan produktivitas melambat. 

Ketergantungan itu membuat beban utang China melampaui 200% dari PDB. Harga properti yang menggelembung di pasar juga merosot dalam lima bulan berturut-turut, memicu kekhawatiran adanya efek limpahan (spillover) dari aktivitas ekonomi lain yang sebenarnya tidak terkait. 

Sejumlah ekonom China di UBS Securities, dalam laporan penelitian pada 24 Oktober 2014, juga membeberkan perlambatan properti Struktural di China mulai berdampak besar, memengaruhi penjualan alat berat, semen, baja, pemak-pernik rumah, dan mobil. 

Untuk saat ini tidak ada keraguan mengenai sektor tertentu yang mestinya memimpin perekonomian China: lebih banyak mendorong konsumsi domestik dengan peran besar sektor jasa. 

Jumlah konsumsi menyumbang 48,5% dari PDB dalam sembilan bulan pertama tahun ini, naik dari tahun lalu 45,9%.  Ini “perubahan besar dan positif,” ujar Perdana Menteri Li Keqiang pada Oktober 2014. 

Perbedaan utama antara ekonom yang menyatakan pasar akan bergairah dan pasar bakal lesu terletak pada keyakinan mereka terhadap kinerja pemerintah memompa produkivitas sembari melakukan perombakan besar-besaran. 


Kebijakan Ekonomi Pemerintah Tiongkok


Bagi pemerintah China, sejumlah langkah paling diperlukan saat ini antara lain memberi petani hak lebih besar untuk menjual lahan milik mereka atau mengajukan pinjaman dengan jaminan tanah. 

Selain itu, mempromosikan urbanisasi dengan melonggarkan aturan yang selama ini mengikat penduduk ke sekolah, rumah sakit, dan program pensiun di kampung halaman. Langkah penting lainnya alah mengizinkan bank meminjamkan uang berdasarkan performa perusahaan, bukan dengan alasan politik. 

Reformasi tersebut “sangat menyakitkan dan bahkan rasanya seperti memotong urat nadi pergelangan tangan,” ujar Li pada Maret 2013. 

“Kami semua sepakat bahwa kunci menumbuhkan produktivitas ialah melalui reformasi,” ujar Daniel Rosen, penulis laporan Asia Society dan mitra pendiri perusahaan konsultasi Rhodium Group yang fokus pada China dan India. 

“Tapi saat reformasi berlangsung, mereka [pengamat bear market] bilang kalau sama sekali tidak melihat ada bukti [atas reformasi tersebut].” Rosen memuji langkah-langkah yang diambil untuk menguatkan kondisi keuangan pemerintah daerah, meningkatkan dividen dari perusahaan milik negara, dan menargetkan sejumlah BUMN paling berkuasa bisa mendorong budaya antikorupsi. 

Para pengamat, yang memprediksi pasar akan lesu, terkadang membandingkan China dengan Jepang periode akhir 1980-an.  Sama seperti Jepang, China mampu menambah jumlah pasokan uang, banyak di antaranya dikucurkan ke pasar properti. Bank-bank China pun kini menghadapi masalah kredit macet yang jumlahnya kian membengkak. 


dua prediksi masa depan ekonomi cina
Pemandangan Kota Shanghat



Dari kacamata ekonom yang menaksir pasar akan naik, seperti Barnett di IMF, gelembung ekonomi Jepang bukanlah analogi yang tepat. Ia memprediksi China bisa bertumbuh 6% per tahun hingga 2030 jika terus meliberalisasi perekonomiannya. 

“Dibandingkan dengan tingkat pendapatan Amerika saat perekonomian Korea dan Jepang melejit, China masih tertinggal. Jadi, China bisa terus tumbuh pesat untuk beberapa waktu sambil mengejar tingkat pendapatan Amerika,” ujarnya.

Namun bagi Summers dan Pritchett, tidak ada negara yang bisa selamanya tumbuh sepesat Negeri Tembok Besar itu. Mereka menyimpulkan, jika laju pertumbuhan suatu negara naik pesat dibandingkan dengan rata-rata dalam kurun waktu tertentu sebelumnya, bisa diprediksi dalam periode yang sama di masa mendatang lajunya akan kembali ke level rata-rata.

“Bila ditanya alasan mengapa laju menurun, orang akan berspekulasi soal faktor-faktor penyebab kenaikan saat ini dan memperkirakan faktor-faktor itu akan hilang,” kata mereka. “Atau menduga akan ada kejadian di masa mendatang yang memicu penurunan.”


bloombergbusinessweek
No.43 Nov 2014

Friends, Love Or Nothing


EmoticonEmoticon