Senin, 06 April 2020

Teknik Dasar dalam Mempelajari Latte Art yang Baik

Dewasa ini produk food & beverages tidak hanya dinikmati dengan lidah saja, namun juga dengan mata. Para penggiatnya dituntut untuk  lebih mahir dalam mempercantik sajian. Begitu juga dengan sebuah estetika secangkir kopi, yang jamak disebut latte art

Sejatinya latte art merupakan seni menggambar di atas air, dalam hal ini kopi. Semenjak ditemukan oleh David Schomer, pemilik Espresso Vivace, Seattle, di tahun 1988, lantas membuat latte art berkembang di berbagai belahan dunia. 


Barista



Berbagai pola dikembangkan, tidak saja bunga roseta, love, dan lingkaran, namun merambah ke bentuk-bentuk yang lebih unik dan kompleks.

Sebelum memulai kreasi latte art haruslah membutuhkan pemahaman dan kemahiran tentang espresso terlebih dahulu. Pasalnya basis dari seni ini terletak pada espresso yang diharuskan memiliki buih kecokelatan di permukaannya yang dikenal sebagai Crema. Sehingga nantinya ketika susu dituang akan menciptakan kontras dan membentuk sebuah pola 
gambar.


DASAR LATTE ART


Kesempurnaan espresso terkait dengan banyak faktor. blending, roasting, grinding, dosing, tamping, air, suhu air, kestabilan suhu, tekanan boiler, waktu ekstraksi, dan ketepatan perhitungan waktu. 

Kemahiran dalam menciptakan espresso harus dipastikan sudah dipahami dasarnya terlebih dahulu.

Kucuran espresso yang baik yang keluar dari portafilter, biasanya keluar dalam bentuk jarum atau tetesan madu yang tidak putus. Pada awalnya berwarna hitam, lalu disusul dengan warna cokelat keemasan.

Tak kalah penting adalah memperhatikan bahan baku susu sebagai tinta menggambar. Disarankan agar tidak memilih susu berlabel Ultra High Tempratured (UHT). Saran ini lebih didasari pertimbangan akan kegunaan bagi tubuh ketika dikonsumsi. 

Beberapa zat yang berguna bagi tubuh akan hilang ketika di-frothing. Susu UHT yang terkena proses frothing terkena dampak penurunan protein sebanyak 70%. Kendati demikian, sah-sah saja apabila dalam rangka latihan dan bukan untuk konsumsi pelanggan. 

Bahkan cara ini sering digunakan ketika belajar mengenai latte art menggunakan sabun pencuci piring. Sebabnya sabun cuci piring memunculkan karakteristik yang serupa apabila difrothing dan dapat juga memunculkan microfoamTentunya setelah itu hasil karyanya segera dibuang.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat menciptakan microfoam dari susu. Pertama-tama, agar menggunakan cangkir bertelinga yang memiliki ujung lancip di bibir cangkir. Selain itu cangkir yang ideal juga harus berbahan stainless steel. Agar susu diisi sesuai dengan takaran yakni setengah dari ukuran gelas yang biasanya terdiri dari satu, tiga per empat, dan setengah liter.

Microfoam tercipta karena ada tekanan uap yang bertemu dengan susu. Prosedur yang harus dilakukan pertama kali yakni dekatkan ujung steamer dengan permukaan susu. Pindahkan tekanan pada kekuatan maksimal, dan ciptakan putaran di dalamnya. Kemudian seiring dengan busa yang meningkat dan suara tekanan uap yang menghilang, susu pun terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Proses menggambar pun siap!


Latte Art


TEKNIK LATTE ART


 Sejatinya teknik latte art terbagi atas dua, yakni penuangan (free pouring) dan menukil (etching). Sesuai dengan namanya free pouring, maka pada teknik ini kemahiran menuang dan imajinasi sang barista sangat menentukan proses dari penciptaan latte art. 

Pola gambar diproses melalui pengendalian gelas kopi dan penuangan susu. Penuang bisa mendekatkan. menjauhkan. menggoyangkannya untuk mendapatkan pola yang diinginkan. Ataupun dengan beberapa kali penuangan untuk pola yang diinginkan.

Umumnya pada teknik ini tercipta pola-pola seperti hati, roseta, atau bahkan angsa. Namun, pola tidak melulu harus mengikuti keumuman. Masih banyak pola yang mungkin dapat dikreasikan. di sinilah imajinasi dari barista bermain.

Teknik penuangan dapat dikembangkan ke dalam teknik menukil. Di teknik ini diperlukan alat lain berupa benda dengan ujung yang lancip dan tipis untuk menggambar. Dengan teknik ini kreator bisa membentuk pola-pola geometris hingga gambar yang tersulit sekalipun, hampir tidak terbatas. Teknik ini juga memungkinkan masuknya bahan-bahan lain dalam kopi seperti bubuk ataupun saus cokelat.

Kemungkinan latte art tidak berhenti sampai di situ. Seorang barista Jepang, Kazuki Yamamoto, yang berbasis di CafĂ©lOg menciptakan kreasi baru dalam seni ini. 

Di tahun 2013 dia menciptakan suatu level baru. Melalui tangannya, latte art yang sebelumnya dinikmati dalam 2D kini disulap menjadi kreasi 3D.

Tidak sekedar gambar, namun sudah ke arah patung dalam bentuk microfoam. Banyak “patung-patung" yang diciptakan untuk memanjakan mata penikmat kopi. Dari mulai kucing, anjing, jerapah, kodok, hingga manusia diciptakan olehnya.



Foodservicetoday

High Way To Hell


EmoticonEmoticon